orange

"WEB KA TERBESAR DI INDONESIA"-"UPDATE SETIAP HARI"-"WEB KA TERBESAR DI INDONESIA"-"UPDATE SETIAP HARI"-"WEB KA TERBESAR DI INDONESIA"-"UPDATE SETIAP HARI"-

Stasiun Garum Blitar


            Stasiun  Garum merupakan stasiun terakhir sebelum masuk Stasiun Blitar dari arah Malang. Stasiun ini memiliki ketinggian dari permukaan air laut 244. Karena stasiun ini tergolong pada stasiun kecil, maka hanya kereta lokal saja yang berhenti di stasiun ini. Seperti kereta api Penataran-Rapih Dhoho. Sleebihnya, hanya dilewati saja oleh rangkaian kereta api jarak jauh.


 berada pada ketinggian 244 DPL

Perlintasan jalur kereta api di stasiun ini hanya ramai pada pagi dan sore hari saja. Di karenakan pada saat pagi hari, banyak kereta api jarak jauh dari Jakarta-Bandung-Yogyakarta  yang melintas melalui jalur stasiun menuju Kota Malang. Dan pada sore hari, dari arus sebaliknya, akan dipenuhi oleh kereta api dari Malang yang menuju wilayah barat.

Jalur Kereta Api Dipo Pertamina Malang Kota Lama

        Ada banyak jalur kereta api yang unik di Kota Malang ini. Setelah meliput jalur kereta api non aktif yang ada di wilayah Blimbing saya langsung meluncur ke kawasan Stasiun Malang Kota Lama. Di kawasan stasiun ini, terdapat jalur melingkar yang menghubungkan stasiun menuju Dipo Pertamina yang ada di Malang. Yang melintas di jalur ini biasanya hanyalah rangkaian kereta api yang menganggkut pasokan BBM ke wilayah Malang.

 Rel ini menuju Dipo Pertamina Malang

           Uniknya adalah, lintasan rel yang menuju Dipo Pertamina ini melewati lorong rumah-rumah di gang sempit yang berada di sekitar Stasiun Malang Kota Lama. Selain itu jug amelewat pasar Kecomboran, pasar yang terkenal menjual onderdil-onderdil motor dan alat-alat perkakas. Ya bisa dibilang Jatinegaranya Kota Malang. Saya tidak tahu jadwal pastinya kereta api yang melintas di rel tersebut. tapi kalau di lihat dari jejak yang ada di rel, sepertinya rel tersebut baru saja dilewati oleh rangkaian kereta api.

Yang ini menuju arah Stasiun Malang Kota Lama

Jalur Mati Malang-Tumpang-Abdurrahan Saleh


            Semenjak melintas di jalan raya Blimbing di tahun 2009 lalu, saya memiliki keinginan untuk mengabadikan jalur mati yang ada di wilayah tersebut. Dan akhirnya baru kesampaian di awal tahun 2014 ini. Setelah usai jeprat jepret di kawasan Stasiun Blimbing, saya melanjutkan perjalanan untuk mengikuti jalur mati kereta api tersebut. 

 sisa sinyal pantograph yang ada di pinggir jalan


Saya tidak begitu pandai dalam sejarah perkereta apian Indonesia, namun kalau di telusuri lebih dalam, jalur mati yang ada di wilayah Blimbing ini menuju ke dua titik. Yang pertama adalah ke daerah Tumpang dan yang ke dua adalah ke kawasan Bandara Abdurrahman Saleh Malang. 

 Sisa jembatan yang masih ada di Blimbing

Kalau di telisik lagi, dugaan saya adalah, jalur tersebut dibangun untuk tujuan. Pertama yang ke arah Tumpang, adalah untuk mengambil dan menganggkut hasil panen perkebunan yang ada di kawasan tersebut (soalnya mustahil kalau dibangun untuk liburan ke Bromo atau Semeru hehehe). Menginggat terdapat banyak perkebunan di kaki pegunungan di kawasan tersebut.

Stasiun Blimbing Kota Malang

       Sudah lama sebenarnya saya ingin menulis dan meliput tentang perkereta apian yang ada di kawasan Kota Malang. Dan selama hampir kurang lebih empat tahun tinggal di Malang, baru pagi hari ini tanggal 2 januari 2014 saya bisa melaksanakan niat saya tersebut. Rencana jeprat-jepret hari ini sudah saya rencanakan dua hari sebelumnya, yaitu rute mana saja yang akan saya lewati dan bagian mana saja yang akan saya jepret dengan kamera.

 Diambil dari samping PJL Blimbing


       Maka setelah sholat subuh, saya bergegas untuk memanaskan sepeda motor saya dan meluncur ke TKP yang saya mulai dari Stasiun Blimbing. Saya memiliki kebiasaan buruk saat hunting, yaitu kurang percaya diri saat membawa kamera. Soalnya saya biasanya melakukan perburuan secara solo alias seorang diri. Ternyata rame-rame hunting foto itu lebih seru dari pada kalau sendirian ya.. hehe..

 PJL Blimbing

Mimpi Ke Dipo Lokomotif Malang

            Setiap ingin naik kereta api dari Stasiun Malang, saya selalu melihat ke arah Dipo Lokomotif Malang yang ada di bagian utara Stasiun Malang. Berharap suatu hari nanti bisa main di kawasan dipo tersebut. Dan pada hari Minggu tanggal 29 lalu, impian saya itu hampir saja terwujud. Karena sehari sebelum hari Minggu, teman saya ayng di Mojokerto megirimi saya pesan singkat untuk datang ke acara yang di adakan Railfans Malang. Adapun niat saya datang menghadiri acara tersebut adalah, untuk dapat mengenal lebih dekat RF Malang (masa sudah empat tahun di Malang tidak kenal satupun RF Malang). Dan jug auntuk mengambil sereagam kebesaran milik anggota MR22.

 Pintu "resmi" masuk ke dipo

Gathering Railfans Daop 8



          Pada hari Minggu kemarin teparnya pada tanggal 29 Desemer 2013, jajaran sedulur DAOP 8 atau yang biasa kita kenal dengan Jalur 8 mengadakan kumpul bareng di Kota Malang. Bertempat di area sekitar Depo Malang, dihadiri oleh RF dari beberapa kota yan gada di Jawa Timur seperti Bangil, Blitar, Malang, Jombang, Mojokerto (MR22) dan juga ada teman-teman dari Daop 2 Bandung yang kebetulan juga sedang melakukan joy ride kurang lebih selama satu minggu dari Jawa Barat ke Surabaya. 

 Foto bersama, ayo tebak, kepala dipo yang mana? hehe


Acara ini berlangsung dari pagi hingga sore hari, dimulai dengan agenda hunting kereta api untuk di foto, sesi foto bersama, ngobrol-ngobrol (sampai diusir sama yang punya rumah karena berisik hehehe..), makan siang, dan juga jalan-jalan ke sekitar Balai Kota Malang yang tepat berada di depan Stasiun Malang. 

Jembatan Penyebarangan Tempat Nongkrong di Kota Malang



            Lokasi ini berada di jembatan penyebrangan yang melintas di bawahnya jalur kereta api dari Surabaya menuju Malang dan sebaliknya. Tempatnya tidak seberapa jauh dari lokasi Stasiun Malang Kota Baru, hanya berjarak beberapa ratus meter saja. Dari lokasi jembatan ini terlihat jelas Stasiun Malang Kota Baru dengan beberapa ruas jalur relnya. Lokasi yang satu ini memang tempat yang asyik dan strategis untuk nongkrong. Uniknya yang nongkrong di tempat ini terdiri dari berbagai macam usia, mulai dari yang balita hingga yang tua. Ya, tempat ini biasa dijadikan tempat sebagian orang tua yang ada di Malang untuk momong anak-anak mereka sembari melihat kereta api yang melintas di bawah jembatan.

 Dari jembatan ini, kita juga bisa mengintip gunung Penangungan yang ada di Pandaan
(arah rel menuju Surabaya)

Lokasinya bisa dikatakan cukup strategis, karena berada langsung di ruas jalan yang memiliki luas cukup lebar sehingga tidak menganggu arus lalu lintas. Selain itu, ruas bibir jembatan juga bisa di jadikan tempat parkir bagi orang tua yang membawa anaknya sekedar untuk berhenti dan melihat kereta api. Tapi lucunya kadang-kadang saya juga berpikir, sebenernya yang ingin melihat kereta api itu bapaknya atau anaknya ya? Hehe.. Melihat penggemar kereta api itu tidak hanya dari anak-anak saja, bahkan yang sudah umur 60 tahun juga ada.

Logo Dipo Lokomotif Mojosari

         Alhamdulillah, akhirnya setelah menunggu kurang lebih 6 bulan lamanya kini logo Dipo Mojosari sudah jadi. Terimakasih kepada teman saya Puguh Sulistyo yang sudah membantu saya untuk merumuskan dan membuat desain yang sederhana untuk Dipo Mojosari. Tapi jujur saya sendiri kurang mengerti hukumnya memakai logo perusahaan yang mana logo itu sudah kadaluarsa. Berikut seperti ini desainnya sobat. Mohon koreksi dan masukannya ya.




Sejarah Perkeretaapian Indonesia

          Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA didesa Kemijen Jum’at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867. 


         Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen – Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang – Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA didaerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 – 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 km. Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar – Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang – Maros belum sempat diselesaikan. 
           

Indonesian Railway Photo Gallery Captured By Laksmono Retno Rahayu

      Ada banyak hobi menarik yang terkait dengan kereta api, mulai dari bermain miniatur kereta api hingga berburu foto rangkaian kereta api. Mungkin hobi kedua inilah yang ditekuni oleh sahabat kita yang satu ini. Beliau adalah Laksmono Retno Rahayu, dengan bermodalkan  sebuah kamera dapat menghasilkan gambar-gambar menarik seputar kereta api Indonesia. Sahabat kita yang satu ini juga mengabdi di PT KAI lho sobat  sepur. Melalui postinmgan ini kami ingin berbagi seputar hobi dan keindahan dari fotography kereta api. Nah, kalau begitu, langsung saja yuk, kita lihat hasil jepretannya .

Sumber foto: Dokumentasi pribadi milik Laksmono Retno Rahayu (bisa dilihat melalui link : Laksmono Retno Rahayu)


 Ini dia mas Laksmono, sobat


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...